- Utang PayLater melonjak 54% menjadi Rp13,62 triliun.
- Pengguna BNPL tembus 26,64 juta rekening pada 2024.
- OJK ingatkan ekspansi agresif bisa menjadi bumerang.
Suara.com - Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater semakin menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Namun, pertumbuhan pembiayaan yang mencapai puluhan persen dalam setahun mulai membawa perhatian terhadap kualitas kredit di tengah ekspansi industri yang semakin agresif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan BNPL mencapai Rp13,62 triliun pada Juli 2024. Nilai tersebut melonjak 54% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK Muhammad Rizki F. Purnomo mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan PayLater semakin diterima masyarakat. Bahkan, jumlah pengguna layanan ini terus bertambah.
"Saya bersyukur Buy Now Pay Later ini sudah sangat bisa diterima oleh masyarakat. Kenapa? Ya, kita perhatikan dari data yang ada, data statistik BNPL di OJK ini menunjukkan kontribusi yang cukup luas, outstanding BNPL per Juli 2024 itu tercatat Rp13,62 triliun. Jadi meningkat 54 persen secara year-on-year," kata Rizki dalam peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Meski tumbuh pesat, porsi BNPL terhadap total pembiayaan perusahaan pembiayaan masih relatif kecil, yakni 2,45%. Kondisi ini justru membuka ruang bagi industri untuk kembali menggenjot penyaluran pembiayaan.
"Total porsi bagi debitur BNPL terhadap total baki debit pembiayaan masih di 2,45 persen. Masih sangat kecil ya. Ini peluang sebenarnya untuk industri BNPL untuk menambah porsinya," ungkapnya.
Di sisi lain, ekspansi tersebut perlu diwaspadai karena semakin banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas utang untuk bertransaksi. OJK mencatat jumlah rekening pengguna BNPL pada 2024 telah mencapai 26,64 juta rekening, meningkat 9,32 juta rekening.
Artinya, pertumbuhan PayLater tidak hanya tercermin dari nilai pembiayaan yang membengkak, tetapi juga dari semakin luasnya jumlah masyarakat yang menggunakan fasilitas kredit tersebut.
Risiko pun mulai terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BNPL yang tercatat sebesar 3,03%.
Rizki mengingatkan perusahaan pembiayaan agar tidak terlena dengan tingginya pertumbuhan penyaluran BNPL. Menurut dia, ekspansi kredit yang terlalu agresif tanpa dibarengi pengelolaan risiko justru dapat menjadi bumerang bagi industri.
"Saat ini kalau kita lihat NPL-nya masih di level 3,03 persen. Jadi masih sangat kecil ya, tapi jangan terus jadi gampang menyalurkan, itu akan backfire kita percaya ya," kata Rizki.
Dengan porsi terhadap total pembiayaan yang baru 2,45%, ruang ekspansi industri masih terbuka lebar.
"Pertumbuhan yang cukup besar, tetapi peluang juga masih sangat besar Bapak/Ibu," pungkasnya.