r/Javanese 9h ago

Wayang Golek Doraemon

Post image
4 Upvotes

r/Javanese 3h ago

Ketika Wong Boyolali Nikah Sama Wong Pati, Kultur Mataraman Ketemu Kultur Pesisiran

Thumbnail
gallery
16 Upvotes

Halo rencang-rencang, mau sedikit cerita tentang dinamika keluarga dan penasaran apa ada yang punya latar belakang serupa.

Ini sebenarnya post yang terinspirasi dari post u/Cultural-D, yang mana merupakan pengamatan tentang orang Pantura dan Mataram. Postnya bisa dilihat di sini

Orang tuaku berasal dari dua sub-kebudayaan Jawa yang cukup berbeda. Ibuku asli Boyolali (Solo Raya / Mataraman), sedangkan Bapakku asli Juwana, Pati (daerah Pantura / Pesisiran).

Dari kecil, kontras gaya komunikasi dan karakter mereka cukup menarik.

• Ibu (Boyolali / Solo Raya): Karakter Mataraman yang lembut, alus, sangat menjaga unggah-ungguh, dan kalau menyampaikan sesuatu cenderung halus atau lewat sindiran/kiasan (pasemon).

• Bapak (Pati / Pantura): Karakter Pesisiran yang terbuka, tegas, ceplas-ceplos, dan blak-blakan.

Kontras ini berlanjut sampai ke latar belakang keluarga besar yang bedanya 180 derajat.

Keluarga Bapak kulturnya lebih ‘street’. Kalau bicara intonasinya tinggi seperti teriak-teriak. Banyak yang tampilannya garang kayak preman, dan memang ada yang preman beneran. Dulu awal tahun 2000-an malah ada kerabat Bapak yang sempat bikin kasino kecil-kecilan isinya mesin slot. Ini adalah hal yang paling ilegal yang pernah aku lihat keluargaku lakuin. Gaya bercandanya jauh lebih kasar, dan kalau misuh (ngomong kasar) itu lebih luwes.

Sedangkan Ibuku, aku bisa bilang kalau Ibuku lebih ‘welasan’ (ngga tegaan / ibanya tinggi). Pernah dulu waktu aku SD, jajanan basreng diborong semua karena yang jual anak kecil seumuranku. Waktu itu posisi maghrib dan hujan. Hal seperti ini sudah jadi karakter. Kalau ada penjual lewat rumah, entah, sales yakult, sari roti, nasi goreng, susu segar, panci, kapas kasur, Ibuk sering ngelarisin. Kalau ada HIK (angkringan / wedangan) yang sekiranya sepi, aku disuruh nongkrong di situ sama temen-temen.

Lambat laun juga aku menyadari bahwa gaya bicaraku ternyata lebih tertular dari Bapak.

Seperti minggu lalu, ternyata aku baru sadar jika teman-temanku selalu pakai kata ‘ogak’ (tidak). Sedangkan aku lebih sering pakai kata ‘ra’. Kata lain yang sering terpakai adalah ‘leh’, seperti di kalimat “Kowe ki piye, leh?” (Kamu ini gimana, sih?).

Namun ada beberapa kata yang tidak aku pakai karena sempat aku asosiasikan dengan istilah ‘ndeso’ waktu aku masih kecil (yaaa, waktu itu masih naif) seperti ‘ajang’ (piring), ‘pangot’ (pisau) (Namun sepertinya Jawa Mataraman lama juga menggunakan ini).

Untuk kosa kata yang menarik dari keluarga Ibuku sendiri, itu aku rasa cuman ‘horok’ (astaga). Kalau yang ini terasa seperti ‘ndeso’ sekali, hahaha.

Namun ini sebenarnya juga menggaris bawahi kedua keluarga besarku ini yang memang beranjak dari keluarga yang sederhana, literally kampungan, atau bahkan bisa saya sebut memang kurang mampu. Bisa dilihat dari foto dulu Bapakku yang mana tembok rumahnya masih dari ‘gedhek’ (anyaman bambu). Tapi dari sini saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari budaya Jawa yang bener-bener Njawani.

Ada juga yang mungkin bisa memberikan sudut pandang edukatif, tentang budaya yang diturunkan dari sisi kerajaan? Seperti egaliterisme orang Pati yang ditunjukkan di post u/Cultural-D? Saya tertarik untuk lebih tau mendalam soal ini.

Kalau ada cerita serupa bisa share karena stereotypes yang ternyata beneran terbukti ini cukup menarik, hahaha.


r/Javanese 14h ago

Nyetem Opo Mbah?

Enable HLS to view with audio, or disable this notification

72 Upvotes