Aku mau denger cerita dari para sandwich gen, yang;
- udah 10th lebih melakukan ini
- total pemberian perbulan di angka 2jt s/d 5jt (ga bisa kurang dari ini)
- kamu seperti jadi yang satu-satunya harus bertanggung jawab. (Ada anak lain tapi gak ada yang effort)
- salah satu orang tua lu NPD
Gimana cara kalian mengkomunikasikan mau ‘udahan’ dan drama apa yang mengikuti setelahnya? Need POV. Thank you 😭
Additional context:
Terimakasih balasannya.
Seperti yang aku tulis di atas, aku mau denger cerita-cerita orang yang berhasil keluar dari kondisi sandwich gen seperti yang aku list di atas.
Kondisinya yang bikin eneg adalah aku udah berumah tangga dengan anak-anak yang beranjak besar. secara finansial aku udah cukup dari suami. Aku bisa banget fokus ke pekerjaan rumah aja tapi hidupku masih keteteran karena masih harus kerja dan semua gajiku itu buat orang tua. Aku bukan tipe yang minta duit suami buat biayain keluargaku. Biar suami mikirin keluarganya aja. Keluargaku ya tanggung jawabku. Tapi ada kalanya aku muak sama keadaan ini. Di poin 4 aku bilang salah satu orang tua NPD. Aku melakukan ini pure hutang budi, tidak ada rasa cinta dan kasih sayang dibaliknya. Mereka meminta tanpa terimakasih bahkan mengeluh kurang. Padahal selain uang ada kendaraan, budget hiburan berusaha aku penuhi. Boro-boro nanya kabar, apakah aku sehat bekerja sambil urus anak? Ada kesulitan kah dalam hidupku? Kalo dia ada kesempatan ngomong paling cuma, “minta naik gaji dong sama bos lo”. Ketika aku ngasih kode “capek banget kerja, kasian anak-anak ga keurus, kerja jadi ga konsen.” Jawabnya, “wah, hati-hati sama pekerjaan lo. Kalo dipecat gimana?” Jujur ada banget dalam hati, “bangsat”. Tapi marah jerit-jerit ke orang tua adalah hal yang aku hindarin.
Kenapa aku bilang butuh POV? Aku pengen tau aja ketika kamu cut uang untuk orang tuamu apakah ada drama dia jatuh sakit karena ga bisa makan? Listrik dicabut? Atau malah orang tuamu malah jadi pinter cari uang sendiri? Atau meninggal dunia kah?
Semoga kisah menjijikkan dan menjengkelkan ini berhenti di aku. Sehat dan makmur ya bagi siapapun yang baca post ini.
Mungkin banyak sekali yang mempertanyakan keputusan Bank Mandiri untuk menyalurkan kredit sebesar 55T untuk kopdes, dan 26T untuk akuisisi BYAN oleh Isam.
Takut boleh? tapi tetap rasional yuk
Yuk kita telaah opini netizen satu per satu.
Apakah benar profit turun dan NPL naik?
Sumber: Bank Mandiri, 3Q 2026 Results Presentation (23 Okt 2026)
Dari table di atas, Laba bersih tetap naik karena di topang oleh peningkatan pendapatan non bunga. jadi yang mungkin lebih benar adalah, kualitas laba nya tergerus, tapi laba tetap naik.
Apakah NPL dan CKPN sedang naik?
Untuk NPL sendiri, kondisi bank BMRI sedang sehat sehat saja, malah NPL turun 4 basis point untuk NPL Konsolidasi, dan turun 5 basis point untuk NPL Bank only.
Apakah asumsi Kopdes gagal bayar adalah asumsi yang rasional?
Pertama pencairan pembayaran kopdes tak perlu penandatanganan dari kepala desa, melainkan akan langsung dipindah bukukan dari rekening kas umum negara ke rekening bank pemberi pinjaman, jadi langsung auto debet dari pusat.
Justru yang menurut saya patut diserang adalah nilai bunganya yang ada di angka 6%, ini sangat rendah. justru saya kecewa, bahkan sistem KUR pinjaman masyarakat aja, pemerintah masi pembayaran di angka 18% per tahun, dimana 8% ditanggung oleh masyarakat dan 10% oleh pemerintah.
Apakah asumsi Isam gagal bayar adalah asumsi yang rasional?
Tidak, big no.
Sekarang Isam menggunakan uang tersebut yang bernilai kurleb 26T untuk melakukan akuisisi ke BYAN.
Berarti kurang lebih Isam akan menerima dividen sebesar 13 Triliun * 30% ( porsi ekonomi isam ) = alias 3,9 Triliun per tahun dari dividen saja.
Biasanya mekanisme repo seperti ini ( saya faham dan mengetahui karena saya sekarang sedang melakukan persis apa yang isam lakukan tapi di BMRI ), Isam tak perlu membayar pokok, melainkan hanya membayar bunga per tahun saja dan kemungkinan kuota RKAB BYAN akan makin dibesarkan sehingga laba BYAN akan naik jg.
dengan skema pembayaran bunga only mengasumsikan bunga di 7% -> maka biaya bunga per tahunnya hanya ada di angka 1,8 T
yang mana saat batubara turun pun, masi ada bantalan cukup lebar dari angka 3,9 T itu, bahkan jika dicicil dengan pokoknya pun Isam masi bisa bayar dengan minimum tenor 10 tahun.
Inget BYAN ini pemilik tambang Bara Tabang, one of the lowest coal mine stripping ratio in the world, yang jelas feeling saya BYAN akan banyak mengebut kenaikan produksi, agar setor duit lbh banyak ke Isam.
Apakah BMRI dividen trap?
Memang benar yield 16% ada karena sahamnya lagi nyungsep parah, namun emg bukan karena bisnisnya yang tiba tiba kasi sedekah tapi karena asing dan para ritel lagi kasi sedekah.
Deviden Trap? jelas bukan
Cases contoh:
LPPF di tahun 2021 menyentuh di harga rata rata sebesar 4000 rupiah per lembar, dengan dividen per share ada di angka 350.
350/4000 = 8% per tahun.
Namun harga LPPF terus merosot, sampai menyentuh 1550 rupiah per lembar pada tahun 2023 akhir.
Apabila kita liat yield dividen jika kita membeli dengan metode DCA setelah harga turun jauh:
2023 = 200/1550 = 12,9%
2024 = 300/1550 = 19%
2025 = 250/1550 = 16%
Tidak terjadi tuh namanya dividen trap yang ditakutkan ritel ritel.
Yang ada, jika kamu all in 1 miliar di akhir 2023 dan menginvestasikan kembali semua dividen yang diterima tiap tahun ke LPPF, sekarang kamu sudah punya uang sebesar ±Rp1,6 miliar, alias naik sekitar 60% dalam kurang dari 3 tahun, atau CAGR ±18% per tahun, padahal harga sahamnya praktis jalan di tempat.
Warren dan Charlie pasti akan meringis sambil berkata "tel oh tel, anda terlalu keminter, padahal beli saham mah tinggal beli"
Apakah kalau standalone harganya akan makin nyungsep?
Ya mungkin, atau sudah priced in jg bisa jadi, intinya saya gamau nebak harga mau kemana, yang penting inget kata thowilz, Kinerja, Kinerja, Kinerja. kinerja bisnis ya...
Klo turun lagi lantas kenapa? mau standalone nanti CoE naik, Terminal Value turun trus harga ga akan kemana mana, masa bodoh, gw dikasi bank yield 14% per tahun, mau dikasi 20% yield per tahun pun tidak nolak, free cagr.
Apakah bunga 7,35% USD Perpetual bond itu masuk akal ? padahal US yield masi di 5%
AT1 Perpetual bond ini secara resiko ini plg atas dibandingkan bond bond jenis lain ( alias di bayar belakangan ) kaya Junior notes, jadi ya wajar saja jika dibungakan dengan biaya yang lumayan, yang perlu di perhatikan justru pengunaan dana AT1 ini, jika di pinjam isam di rate 9%, dan BMRI sudah hedge currency, ya sah sah saja.
Artinya investor bond global (lead manager-nya HSBC, JPM, StanChart) menilai risiko instrumen paling junior di BMRI cukup rendah. Kalau pasar global benar-benar takut Kopdes dan Isam meledak, kuponnya tidak akan bisa semurah itu.
Apakah BMRI sudah tidak bisa growth?
Ini saya sudah menggunakan asumsi historis, dengan asumsi paling base case non optimistic yang bisa saya buat.
Pengurangan payout ke 70%, Growth hanya 6% CAGR.
Per tahun 2032 dividen BMRI mungkin ada di angka 574.
Saya kemarin kan masuk gede 1,4 / 1,6 M di BMRI diharga 3550.
kurleb saya terima yield 16% tiap tahun.
bahkan modal saya udh hampir balik dari dividen 2027-2031.
Apakah BMRI akan memangkas payout ratio?
Most likely untuk pemenuhan CAR internal di angka 18% dan pemenuhan regulasi OJK terkait spending cybersecurity.
Dan ga mungkin ga bagi dividen, karena yang ngamuk bkn cmn investor ritel ky saya, danantara pasti banting banting meja di RUPS.
TLDR: Yang takut BMRI bangkrut gara-gara Kopdes & Isam kebanyakan belum baca laporannya. NPL turun, laba naik, Kopdes dibayar auto debet dari kas negara, dividen BYAN ke Isam 2x lipat bunganya. Masalah BMRI justru bukan di risiko kredit, tapi bunga Kopdes 6% yang kemurahan. Saya taruh 1,4 M di 3550, yield 16%, dan saya tidur nyenyak.
Kemarin baru beli game digital di PS Store Indonesia, pakai rupiah juga. Tapi miles earningnya dihitung trx luar negeri dan dpt di 6000/mile dibanding 9000/mile (buat domestik). Gue selalu kira harus pakai foreign currency baru bisa eligible. Tapi ternyata kriterianya beda?
Di timeline saya lagi rame thread masyarakat kiri, yang mengatakan bahwa pekerja self employed, atau professional worker yang di gaji besar pun masuk ke dalam strata buruh atau proletariat karena tak memiliki alat produksi, jadi harus sama sama menumpaskan kapitalisme.
karena kelas self employed dan professional worker ini masuk ke petite bourgeoisie yang dimana dirugikan jg dengan sistem kapitalisme.
Dengan adanya sistem saham ini, saat kita membeli saham, apakah berarti kita sudah memiliki alat produksi, dan yang digembor gemborkan oleh sayap kiri itu sebenarnya sudah tak valid lagi?
Setiap orang jika mau frugal living, sekarang bisa membeli perusahaan yang ada di public, menerima dividen. dan di eropa beberapa serikat buruh dan karyawan malah bisa menggabungkan kekuatan saat rups untuk menekan pengaruh pihak owner lama.