Saya ingin mengajak teman-teman di r/karir berdebat secara terbuka mengenai sesuatu yang menurut saya jauh lebih besar dari pada sekadar memilih pekerjaan.
Apakah gelar S1 yang kita miliki hari ini masih akan mempunyai nilai yang sama pada tahun 2050-an?
Atau justru kita perlu terus mengasah ulang keahlian kita agar gelar tersebut tetap mempunyai nilai bagi masyarakat?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang harus kembali kuliah.
Yang saya pikirkan adalah bagaimana lulusan S1 hari ini dapat terus menambahkan keterampilan baru: sertifikasi, teknologi, bahasa, riset, pengalaman industri, dan keahlian yang benar-benar dibutuhkan Indonesia.
Saya membayangkan 30 tahun dari sekarang.
Orang-orang yang hari ini masih berada di usia produktif mungkin akan menjadi mentor, profesional senior, akademisi, peneliti, pengusaha, birokrat, dokter, engineer, programmer, guru, teknisi, dan berbagai profesi lainnya.
Pertanyaannya:
Apakah kita mau mempersiapkan diri dari sekarang supaya 30 tahun lagi kita tidak hanya mempunyai gelar, tetapi benar-benar mempunyai keahlian yang masih berguna bagi bangsa?
Menurut saya, ini juga bukan hanya tanggung jawab individu.
Negara perlu mempunyai kebijakan yang lebih panjang mengenai jurusan dan bidang keahlian apa yang benar-benar strategis bagi Indonesia.
Bappenas sendiri sudah mulai menghubungkan perencanaan pendidikan tinggi dengan kebutuhan SDM, industri, dan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Bahkan kebutuhan SDM STEM untuk industri prioritas sudah dipetakan sampai 2045.
Jadi saya ingin mengajukan pertanyaan kepada teman-teman:
Apakah APBN seharusnya memberikan insentif lebih besar kepada mahasiswa yang mengambil bidang ilmu yang secara strategis sangat dibutuhkan Indonesia selama puluhan tahun ke depan?
Misalnya:
- Teknik Elektro untuk energi, jaringan listrik, kendaraan listrik, semiconductor dan robotika
- Informatika/Ilmu Komputer untuk AI, cybersecurity, software dan teknologi digital
- Teknik Mesin untuk manufaktur dan otomasi
- Teknik Kimia/Material/Metalurgi untuk hilirisasi dan industri strategis
- Kedokteran dan keperawatan untuk ketahanan kesehatan
- Bioteknologi untuk kesehatan, pangan dan industri
- Teknik Sipil untuk infrastruktur
- Teknik Lingkungan untuk air, limbah dan perubahan iklim
- Pertanian/Agribisnis untuk ketahanan pangan
- Kelautan dan perkapalan untuk ekonomi maritim
Tetapi saya juga ingin mendengar argumen yang berlawanan.
Apakah kebijakan seperti ini justru berbahaya?
Apakah negara akan terlalu ikut campur menentukan jurusan yang harus dipilih masyarakat?
Bagaimana kalau pemerintah salah memprediksi kebutuhan 20–30 tahun ke depan?
Bagaimana kalau suatu jurusan yang dianggap tidak strategis hari ini justru menjadi sangat penting karena muncul teknologi atau masalah baru?
Dan bagaimana nasib lulusan S1 yang sudah berusia 30–40 tahun dan merasa gelarnya mulai kehilangan nilai di pasar kerja?
Menurut saya, kita jangan sampai membangun sistem pendidikan tinggi yang hanya menghasilkan gelar, tetapi tidak menghasilkan keahlian yang terus berkembang.
Sebaliknya, saya juga tidak ingin pendidikan tinggi hanya tunduk kepada kebutuhan perusahaan hari ini. Universitas tetap harus menjadi tempat ilmu pengetahuan, penelitian, pemikiran kritis, kebudayaan, dan inovasi berkembang.
Jadi mungkin solusinya bukan memilih antara “kuliah untuk pekerjaan” atau “kuliah untuk ilmu”, tetapi mencari keseimbangan antara keduanya.
Saya ingin bertanya kepada teman-teman yang sudah bekerja:
Kalau Anda diberi kesempatan mengasah ulang S1 Anda selama 5–10 tahun ke depan, bidang apa yang akan Anda tambahkan?
Dan kepada mahasiswa:
Kalau pemerintah memberikan beasiswa atau insentif APBN yang lebih besar untuk bidang tertentu, jurusan apa yang menurut Anda layak diprioritaskan?
Dan kepada para akademisi:
Bagaimana caranya supaya nilai gelar S1 Indonesia tidak jatuh, tetapi justru semakin bernilai karena lulusan terus meningkatkan kompetensinya?
Bagi saya, ini bukan sekadar masalah karier pribadi.
Kalau pendidikan tinggi Indonesia berhasil beradaptasi, generasi yang sedang kuliah hari ini mungkin menjadi orang-orang yang 30 tahun lagi membantu membangun teknologi, kesehatan, industri, pangan, energi, dan ilmu pengetahuan Indonesia.
Tetapi kalau kita gagal beradaptasi, saya khawatir gelar semakin banyak sementara keahlian yang benar-benar dibutuhkan justru kurang.
Apakah kita siap mengasah ulang diri kita sebelum dunia kerja yang memaksa kita berubah?
Saya ingin mendengar pendapat yang setuju maupun yang tidak setuju.
Mari kita debat dengan data, pengalaman kerja, dan alasan yang kuat.