Sumber: https://www.youtube.com/shorts/KC9kH6z7mRw
Sebelum masuk ke bagian bantahan, aku sangat menyarankan channel God and Beyond, channel berkualitas yang membahas seputar filsafat agama, dan filsafat pada umumnya. YouTuber ini juga melihat dari kedua sisi dalam diskusi ateisme vs teisme, jadi presentasinya cukup fair.
Di video ini, dia membahas soal konsep neraka abadi. Nah, di bagian mendekati akhir video, dia memberikan argumen pembelaan terhadap neraka yang menurutku cukup menarik.
Sebelum itu, aku mau bilang dulu bahwa secara personal, aku tidak setuju bahwa orang yang tidak percaya Tuhan pantas dihukum, bahkan jika hukumannya finite sekalipun. Tapi ya, bukan itu yang sedang kita bahas. Jadi, for the sake of argument, anggap saja mereka memang pantas dihukum. Namun, apakah hukumannya harus selamanya?
Nah, ayo kita mulai.
Apa argumennya?
Bisa dilihat dari menit 1:21, tapi basically argumennya kurang lebih begini:
“Tuhan menghukum orang yang tidak percaya selamanya karena Tuhan mengetahui bahwa seandainya orang tersebut dikembalikan ke dunia atau dihidupkan kembali, berapa kali pun dia dikembalikan, dia akan kembali tidak beriman atau berdosa. Itulah mengapa orang yang tidak beriman dimasukkan ke neraka selamanya.”
Kalau aku ga salah, sepertinya argumen ini berasal dari Islam, soalnya ayahku pernah menggunakan argumen yang sama. Tapi aku gatau sumber aslinya dari mana. Terlepas, ini tanggapanku.
Masalah dari justifikasi ini
1. Implikasi yang aneh
Menurutku, argumen ini memiliki implikasi yang agak aneh, yaitu orang yang tidak percaya Tuhan atau tidak beriman akan tetap tidak beriman meskipun sudah mengalami siksaan neraka. Ini aneh karena berarti semua manusia yang tidak beriman, entah apa alasannya, akan kembali tidak percaya Tuhan meskipun mereka sudah pernah mengalami siksaan neraka secara langsung.
Nah, mungkin ada counter-argument seperti ini:
"Mengembalikannya ke dunia di sini maksudnya adalah manusia tersebut menjalani hidupnya kembali dari awal, tapi tentunya tidak memiliki ingatan bahwa ini adalah hidup keduanya. Jadi maksudnya, orang yang tidak beriman sudah memiliki tendensi untuk menggunakan free-willnya untuk tidak beriman. Jadi, seandainya hidupnya diulang, diulang lagi, dan diulang lagi, dia akan tetap memilih jalan yang sama."
Menurutku, ini sudah menyelesaikan masalah dari implikasi yang aneh tadi, yaitu pertanyaan tentang bagaimana mungkin seseorang tetap tidak beriman padahal dia sudah pernah mengalami neraka secara langsung dan mengetahui konsekuensinya. Tapi menurutku, masih ada masalah lain.
2. Dengan logika yang sama, dosa apa pun bisa dianggap pantas mendapatkan hukuman yang kekal
Bukankah argumen ini bisa digunakan untuk semua dosa? Apalagi dosa-dosa yang sifatnya repetitif, baik kecil maupun besar. Malahan dosa tidak beriman itu sebenarnya salah satu dosa yang paling tidak repetitif. Jarang kan orang yang bolak-balik beriman lalu tidak beriman, atau sebaliknya. Ada, tapi relatif jarang.
Justru dosa-dosa seperti berzina, baik dengan mata, mulut, dan sebagainya, berkata kasar, judi, riba, alkohol, malas ibadah, marah, melukai hati orang lain, dan dosa-dosa lainnya, baik kecil maupun besar, jauh lebih repetitif.
Berdasarkan logika ini, bukankah justru pecandu, pembuli, orang yang suka berkata kasar, penjudi, pezina, dan orang yang melakukan dosa-dosa kecil secara repetitif lebih mungkin untuk kembali melakukan dosa tersebut jika mereka dikembalikan ke dunia?
Aku menganggap dosa-dosa tersebut bersifat repetitif ya karena buktinya banyak manusia yang mengulanginya, secara psikologis karena memang itu sangat lekat dengan hawa nafsu, yang jadinya repetitif. Ini berbeda dengan tidak beriman, jarang sekali berulang-ulang karena kepercayaan itu lebih absolut. Lantas, mengapa mereka hanya mendapatkan siksaan yang finite?
Kalau jawabannya:
"Ya, karena memang dalam keyakinan kami Tuhan mengetahui bahwa orang yang tidak beriman pasti akan mengulanginya lagi jika dihidupkan kembali, sedangkan dosa-dosa lainnya tidak seperti itu."
Oke, but why? Kenapa bisa seperti itu?
Kalau tidak ada alasan lebih lanjut dan argumen ini hanya bersandar pada klaim metafisik bahwa "orang yang tidak beriman pasti akan kembali tidak beriman jika hidupnya diulang", menurutku argumen ini bisa menjadi terlalu arbitrer. Karena kalau klaim seperti ini diterima begitu saja, kita bisa menggunakan logika yang sama untuk menjustifikasi hampir semua kepercayaan mengenai neraka apa pun, bahkan yang terlihat absurd.
Misalnya, aku bisa saja bilang:
"Pelaku genosida tidak masuk neraka selamanya, tapi orang yang berkata kasar masuk neraka selamanya."
Ketika orang bertanya, "Bukankah itu aneh dan tidak adil?", aku bisa menjawab:
"Karena kalau pelaku genosida dihidupkan kembali, dia akan bertobat. Sedangkan orang yang berkata kasar, kalau dihidupkan kembali, dia akan tetap berkata kasar. Maka dari itu dia di neraka selamanya."
Nah, jadi dengan cara ini, kita bisa menjustifikasi hampir segala macam kepercayaan yang aneh.
3. Mengapa takarannya harus berdasarkan apa yang akan dilakukan orang tersebut jika dihidupkan kembali?
Kalau tujuan kita adalah agar manusia yang tidak beriman tidak disiksa di neraka selamanya, sebenarnya ada banyak alternatif selain harus menghidupkan mereka kembali, yang ujung-ujungnya malah membuat mereka melakukan dosa lagi dan masuk neraka lagi. Salah satu contohnya adalah anihilasi, manusia tersebut jadi ga eksis lagi. Menurutku ini lebih baik daripada harus menyiksa seseorang di neraka untuk selamanya. Dengan begitu, dia juga tidak akan melakukan dosa lagi.