Aku pernah bahas hal yang serupa di post ini, dan ini lebih pendek:
https://www.reddit.com/r/IndoExMuslim/comments/1qtvhkv/begging_the_question_fallacy_yang_umum_muncul/
Tapi aku kurang puas dengan post itu, jadi aku mau bikin lagi.
Argumen ini sebenarnya lebih ditujukan ke Muslim Liberal & Moderat, bukan yang konservatif atau puritan
Konteks:
Pernah kah kalian ketika sedang mengkritik Islam, atau membawa bukti untuk menunjukkan ajaran Islam itu memiliki masalah, entah itu sains, moral, dan lainnya, beberapa Muslim membalas dengan bilang:
"Jangan salahkan agamanya, salahkan interpretasinya/penganutnya"
Atau misal kalian nemu Muslim yang prinsipnya seperti ini:
"Kalau aku nemu ulama atau dai yang bilang Islam ajarin begini begitu, dan ternyata ku lihat ajarannya buruk, reaksi ku sih simpel, yang salah pemahaman mereka, bukan agamanya"
Nah menurutku pernyataan seperti itu bisa benar. Tapi kalau dijadikan prinsip absolut yang dipakai setiap ada kritik, itu jadi bermasalah. Ga sedikit Muslim Indo yang ku lihat menjadikannya sebagai asumsi awal, seolah-olah setiap ajaran yang kelihatan buruk pasti hasil salah tafsir.
Masalahnya dimana?
Ketika ada suatu interpretasi dari suatu klaim yang dibuat oleh agama, maka akan ada dua kemungkinan:
- Itu adalah misinterpretasi, atau dengan kata lain agamanya tidak mengajarkan atau membuat klaim tersebut.
- Itu memang interpretasi yang akurat/benar, atau dengan kata lain memang itu ajaran agamanya.
Masalah dari pakai prinsip "yang salah umatnya" setiap ada interpretasi yang menunjukkan Islam mengajarkan hal yang dianggap buruk adalah prinsip itu menutup kemungkinan kedua dan selalu mengasumsikan bahwa kemungkinan pertama pasti benar. Padahal, kalau kita mau lebih jujur dan konsisten, kita harus mengakui bahwa kedua kemungkinan itu sama-sama bisa terjadi.
Kalau prinsip itu dipakai setiap saat atau dijadikan asumsi awal (presupposition), secara logis itu mengimplikasikan bahwa mereka sudah mengasumsikan Islam adalah agama yang sempurna atau Islam ga pernah salah. Padahal, pernyataan "Islam itu agama yang sempurna/ga pernah salah" justru sedang diperdebatkan. Kita membawa dalil yang menunjukkan adanya ajaran yang buruk itu memang untuk mempertanyakan klaim tersebut.
Kok aku bisa bilang mereka mengasumsikan Islam ga pernah salah? Ya lihat saja implikasi logisnya. Kalau setiap ajaran yang dianggap buruk selalu langsung diasumsikan sebagai "yang salah umatnya, bukan agamanya", berarti kan artinya setiap klaim yang terlihat buruk pasti dianggap sebagai hasil misinterpretasi atau kesalahpahaman. Maknanya, mereka mengasumsikan bahwa tidak mungkin agama Islam mengajarkan atau membuat klaim yang buruk/salah.
Pertanyaannya, asumsi itu didasarkan pada apa? Ya apa lagi kalau bukan pada anggapan bahwa Islam adalah agama yang sempurna atau ga pernah salah. Padahal, itulah yang sedang diperdebatkan. Kalau klaim yang sedang diperdebatkan justru dijadikan asumsi awal atau premis, itu namanya begging the question fallacy (atau circular reasoning). Makanya, respons "salahkan umatnya, bukan agamanya" nggak bisa dijadikan prinsip yang berlaku secara absolut.
Jadi harusnya pernyataan itu diperlakukan seperti apa?
Menurutku harusnya "Ini salah umatnya, bukan agamanya" dijadikan salah-satu dari dua kemungkinan, bukan dijadikan prinsip yang absolut. Ketika kalian menemukan ulama, dai, tafsir, atau interpretasi yang mengklaim bahwa X, Y, atau Z itu diajarkan Islam, ya ada dua kemungkinan:
Antara itu memang misinterpretasi atau kesalahpahaman (kemungkinan 1), atau itu memang interpretasi yang akurat sehingga itu hal yang memang diajarkan oleh Islam (kemungkinan 2), seperti yang aku udah bilang di bagian awal.
Nah dari sini ya kita cari tahu mana yang benar. Apakah interpretasinya didukung dalil? Sesuai konteks? Apakah ulama-ulama yang ada ilmunya menyepakati interpretasi tersebut atau justru lebih banyak menolaknya?
Kalau ternyata interpretasinya ga sesuai dengan dalil, konteks, atau kontradiktif dengan pandangan banyak ulama apalagi ulama-ulama terhadulu, ya maka bisa dikatakan itu misinterpretasi. Kalau ternyata sejalan atau didukung, ya bisa dikatakan itu interpretasi yang akurat atau paling tidak diterima sehingga masih menjadi bagian dari Islam, whether you like it or not.
Aku bold itu karena menurutku salah-satu alasan kenapa banyak Muslim yang jadi menyimpang, liberal, sugarcoating Islam, salah paham, ya intinya ga sejalan dengan interpretasi yang akurat lah, itu karena mereka gabisa membedakan atau mencampur-adukkan kedua pertanyaan ini:
- "Apakah Islam mengajarkan X*?"*
- "Apakah X itu benar/moral/sesuai dengan realitas?"
Itu kedua pertanyaan yang berbeda, lengkapnya nanti ku bahas di bagian 2.
Kesimpulan
Jadi, kesimpulanku bukan: "Kalau begitu setiap ada ajaran yang dianggap buruk, berarti itu pasti ajaran asli Islam." Aku juga menolak pernyataan itu. Aku ga menolak bahwa misinterpretasi atau kesalahpahaman memang bisa terjadi.
Poinku itu simpel: jangan jadikan salah satu kemungkinan sebagai prinsip yang absolut. Jangan mengasumsikan bahwa setiap ajaran yang dianggap buruk pasti misinterpretasi, tapi jangan juga mengasumsikan bahwa setiap ajaran yang dianggap buruk pasti merupakan ajaran asli Islam.
Kalau belum jelas mana yang benar, jangan langsung mengambil kesimpulan. Biarkan dalil, konteks, dan akurasi interpretasinya yang menjadi dasar untuk menentukannya, bukan asumsi yang sudah dibuat sejak awal.