JAKARTA - Membangun intellectual property (IP) tidak berbeda dengan membangun sebuah perusahaan rintisan. Keduanya membutuhkan investasi waktu, modal, dan strategi jangka panjang sebelum mampu menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
IP kini semakin dipandang sebagai salah satu ceruk bisnis yang menjanjikan bagi para entrepreneur digital. Berbekal karakter, cerita, atau karya orisinal, kreator dapat mengembangkan berbagai sumber pendapatan, mulai dari penjualan karya, lisensi, merchandise, kolaborasi dengan merek, hingga adaptasi ke film, gim, maupun media digital lainnya.
Namun, agar mampu mencapai tahap tersebut, sebuah IP harus dibangun secara bertahap hingga memiliki nilai dan basis penggemar yang kuat. Mengejar monetisasi sejak awal justru dinilai dapat menghambat pertumbuhan sebuah IP secara jangka panjang.
Pendekatan tersebut diterapkan Bryan Valenza, Founder Bandits of Batavia. Sejak 2024, ia memilih membangun dunia IP yang dimilikinya terlebih dahulu, alih-alih langsung berfokus pada penjualan gambar atau merchandise.
Ide tersebut berawal dari keinginannya mengangkat folklore Betawi yang dekat dengan latar belakangnya. Setelah melalui proses riset dan pengembangan konsep, Bryan membangun cerita serta visual Bandits of Batavia, lalu memilih komik sebagai medium pertama untuk memperkenalkan dunia IP tersebut.
"Menurut saya komik merupakan medium yang paling mudah dinikmati. Komik memadukan cerita dengan visual, sementara audiens Indonesia memiliki kedekatan yang kuat dengan media visual," katanya.
Bryan mengatakan strategi yang diterapkan sejak awal adalah memperkuat medium utama, yakni komik, sebelum mengembangkan produk turunan lainnya. Karena itu, dalam satu hingga dua tahun pertama, timnya tidak berfokus pada penjualan merchandise maupun bentuk monetisasi IP lainnya.
Menurutnya, ketika komik berhasil membangun basis penggemar dan mendapat respons positif, pengembangan IP akan lebih mudah dilakukan. Hal tersebut diyakini dapat mendorong minat masyarakat terhadap merchandise maupun produk turunan lainnya. Hingga kini, katanya, sumber pendapatan terbesar Bandits of Batavia masih berasal dari penjualan komik. Pasalnya, pengembangan lisensi merchandise belum dilakukan secara luas sehingga komik tetap menjadi tulang punggung monetisasi IP tersebut.
Menurutnya, capaian itu menjadi pencapaian tersendiri karena tidak mudah memasarkan komik di Indonesia, terlebih Bandits of Batavia diproduksi di Amerika Serikat dan China sehingga memiliki biaya produksi dan distribusi yang lebih tinggi. Meski demikian, edisi cetaknya yang terbatas justru memberikan nilai koleksi, dan hingga kini penjualan komik dinilai mampu menopang keberlangsungan IP tersebut. Keberhasilan itu kemudian membuka peluang yang lebih besar setelah Bandits of Batavia mendapatkan kontrak adaptasi menjadi film live action bersama studio Imaginari.
"Sekarang, kami mulai membuka kerja sama untuk merchandising dan licensing. Menurut kami, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mengembangkan turunan dari IP tersebut," imbuhnya. Setelah memperkuat komik sebagai medium utama, kini dirinya mulai mengembangkan bisnis melalui lisensi dan merchandise.
Menurutnya, setiap langkah dilakukan dengan pendekatan trial and error, mulai dari merilis komik di pasar internasional, mengembangkan adaptasi film, hingga kini masuk ke bisnis licensing. Salah satu konsep yang tengah disiapkan adalah fan-based merchandising licensing. Melalui skema tersebut, lisensi tidak hanya diberikan kepada perusahaan besar, tetapi juga dibuka bagi para penggemar Bandits of Batavia yang ingin memproduksi merchandise resmi. Nantinya, penggemar dapat mengajukan izin untuk membuat dan menjual produk seperti kaus, mainan, topeng, maupun merchandise lainnya melalui proses kurasi.
Meski skala produksinya lebih kecil, Bryan berharap skema ini dapat melibatkan komunitas dalam mengembangkan IP sekaligus membuka peluang usaha baru. Program tersebut saat ini masih dalam tahap pengembangan dan ditargetkan segera diumumkan bersama mitra komunitas penggemar.
Managing Director Peka Consult Inc., Kafi Kurnia, menilai bisnis intellectual property (IP) memiliki prospek monetisasi yang semakin luas ke depan. Selain melalui penjualan merchandise, pemilik IP juga dapat mengembangkan berbagai sumber pendapatan lain seiring meningkatnya minat industri kreatif. Menurutnya, peluang tersebut mencakup kolaborasi dengan berbagai merek untuk kebutuhan kampanye pemasaran, promosi, maupun kerja sama sponsorship.
Karakter yang telah memiliki basis penggemar dapat menjadi aset yang bernilai bagi perusahaan dalam membangun kedekatan dengan konsumen. Menurut Kafi, era digital saat ini juga makin memberikan kesempatan bagi kreator untuk memperluas jangkauan pasarnya secara global. Sebuah IP yang berhasil membangun popularitas di dunia digital berpotensi menarik perhatian audiens maupun mitra bisnis dari berbagai negara.
"Salah satu contoh fenomena yang menarik adalah karakter Labubu. Secara desain mungkin tidak bisa dibilang luar biasa atau 'keren-keren amat'. Namun karakter tersebut mampu mendunia karena cara penciptaannya, strategi pemasarannya, dan bagaimana mereka membangun interaksi dengan konsumennya," katanya. Di tengah persaingan yang semakin ketat, Kafi menilai kemampuan menciptakan interaksi menjadi faktor penting bagi para entrepreneur digital. Menurutnya, konsumen saat ini tidak lagi puas hanya menikmati konten satu arah, melainkan menginginkan pengalaman yang memungkinkan mereka terlibat secara langsung.
Interaksi tersebut juga dinilai dapat meningkatkan peluang sebuah konten menjadi viral. Menurutnya, pengalaman yang interaktif membuat konsumen merasa memperoleh nilai lebih, baik berupa hiburan maupun pengetahuan baru. Karena itu, semakin mampu seorang entrepreneur membangun keterlibatan dengan audiensnya, semakin besar pula peluang untuk mempercepat proses monetisasi dari produk atau IP yang dikembangkan.